"Jenglot" yang dipamerkan waktu itu ada empat, masing-masing disebut
sebagai "Jenglot", yang konon berjenis kelamin lelaki dan konon pula bisa
membantu mengamankan pemiliknya dari segala macam bahaya. Yang
lain lagi adalah Bethoro Karang, pria juga, konon bisa membantu
kelancaran usaha, menjaga keselamatan, dan lain-lain. Lalu Bethoro
Katon, konon berjenis kelamin wanita, di mana selain membantu
melancarkan usaha juga bisa dipakai sebagai "pengasih". Yang terakhir,
Begawan Kapiworo, katanya penjelmaan kera putih, ada hubungan dengan
Anoman, mempunyai padepokan Kendali Sodo. "Jenglot" sendiri menurut
Abas adalah benda mati, bukan mahluk hidup. Meski "jenglot" bukan
mahluk hidup, tetapi daya spiritual "jenglot" tetap hidup. Karena itu "jenglot
harus diberi makan". Makanan "jenglot" adalah darah berjenis O dan
minyak wangi. Abas menyebut merk minyak wangi yang katanya mudah
didapat di pasar.
Ahli Forensik FKUI-RSCM: Jenglot Bukan Manusia
Jenglot pernah diperiksa dr Budi Sampurna DSF di Bagian Forensik
RSCM. Benda sepanjang 10,65 cm, menyerupai boneka menyeramkan itu
memiliki bagian serupa kepala, badan, tangan dan kaki serta rambut terurai
sepanjang 30 cm. Ukuran masing-masing tampak proporsional. Hanya
saja, ukuran kuku-kuku jarinya serta taring sangat panjang. Taring mencuat
hampir sepanjang ukuran kepala, kuku juga panjang dan meruncing hingga
bukan tidak mungkin membuat bulu kuduk penonton berdiri.
"Setiap 35 hari pada Jumat Legi, kita kasih
satu tetes darah dicampur minyak javaron
seperti kalau banyak orang memberikan
sesaji berupa kembang atau kemenyan,"
kata Hendra. Tak ada yang tahu apakah
darah tersebut benar-benar diminum atau
tidak oleh mahkluk seberat 37,2 gram itu.
Menurut Hendra, dalam tubuh Jenglot masih
terdapat kehidupan.
Tanda kehidupan itu, menurutnya, dapat dilihat dari bola matanya yang
bisa berpindah setiap saat serta rambut dan kukunya yang memanjang.
Benarkah Jenglot dan kawan-kawannya itu masih hidup atau setidaknya
pernah hidup? Hendra dengan berani mengajukan "tantangan" agar para
ahli kedokteran menelitinya secara objektif.
Tampaknya gayung bersambut. Pihak forensik RSCM tertarik untuk
meneliti "kemanusiaan" Jenglot. Tentu saja bukan berdasarkan ilmu klenik,
tapi secara medis berdasarkan ilmu pengetahuan. Maka pada hari Kamis,
25 September 1997 siang, makhluk Jenglot dibawa ke RSCM untuk
diperiksa secara medis. Ruang Forensik dan ruang Rontgent RSCM
mendadak penuh sesak pengunjung.
Mereka terdiri dari paramedis, mahasiswa kedokteran, wartawan dan
sejumlah pengunjung RS yang tertarik melihat kedatangan jenglot yang
ditaruh dalam kotak kayu berukir itu.
Ahli Forensik FKUI-RSCM, Budi Sampurna DSF mengatakan, pemeriksaan
Jenglot dengan latar belakang seperti yang telah diketahui masyarakat luas
merupakan tantangan menarik bagi dunia kedokteran untuk
membuktikannya dari segi keilmuan. Menurut dr Budi, guna membuktikan
kemanusiaan jenglot, maka akan dilakukan deteksi dengan alat rontgent
untuk mengetahui struktur tulangnya serta pemeriksaan bahan dasar
kehidupan seperti C,H,O atau proteinnya.
Untuk keperluan tersebut, ahli forensik mengambil sampel dari bahan yang
diduga sebagai kulit atau daging Jenglot serta sehelai rambutnya.
Pengambilan sampel dilakuan sendiri oleh Hendra yang saat datang ke
RSCM membawa serta tiga batang hio. "Untuk jaga-jaga, jangan-jangan
ada yang kena sawab-nya (pengaruh)," katanya perihal hio.
Dokter Djaya Surya Atmaja kemudian memotret dan mengukur berbagai
bagian "tubuh" Jenglot. Setelah itu dokter spesialis Radiologi, dr Muh Ilyas
memeriksa jenglot menggunakan sinar X. Dalam pemerikasaan lebih lanjut
Hendra menolak barang koleksinya dibedah. Alasannya, jasad Jenglot
akan rusak. "Akibat tidak baik bagi kita semua," katanya.
Usai pemeriksaan ternyata hasilnya menyatakan jenglot tak memiliki
struktur tulang. Hasil rontgent yang disaksikan puluhan wartawan,
paramedis, mahasiswa praktek, ternyata hanya menampilkan bentuk
struktur menyerupai penyangga dari kepala hingga badan. Selain itu
terlihat juga jaringan kuku dan empat gigi selebihnya tak ada. "Ada bagian
jaringan serupa daging, namun kita belum bisa memastikan apakah itu
daging atau bahan lainnya," kata dr Muh Ilyas.
Guna mendapat hasil lebih mendetail, maka Jenglot diteliti dengan CT
Scan. Ternyata Jenglot tidak memiliki struktur seperti manusia kendati
kenampakan luar menyerupai manusia. Kini pihak Forensik FKUI-RSCM
masih meneliti sampel kulit/daging serta rambut Jenglot untuk mengetahui
golongan darah, DNA-nya. "Memakan waktu sekitar tiga minggu," katanya.
Menanggapi hasil tersebut, Hendra mengatakan, "Apa pun hasilnya kita
harus terima dong," katanya.
Majalah Gatra, Nomor 52/III, 15 November 1997 memberikan laporannya
mengenai Jenglot. Penelitian yang dilakukan Dokter Djaja Surya Atmaja,
PhD, dari Universitas Indonesia menunjukkan bahwa contoh kulit Jenglot
yang diperiksa memiliki karakteristik sebagai DNA (deoxyribosenucleic
acid) manusia. "Saya kaget menemui kenyataan ini," kata Djaja, doktor di
bidang DNA forensik lulusan Kobe University, Jepang, 1995. Namun Djaja
menolak anggapan seolah ia mengakui Jenglot sebagai manusia. "Tapi
sampel yang saya ambil dari Jenglot menunjukkan karakteristik manusia,"
katanya.
Adapun sampelnya berupa sayatan kulit Jenglot berukuran setengah luas
kuku, yang mengelupas dari lengannya. Contoh kulit itulah yang kemudian
ditelitinya di Laboratorium RSCM atas prakarsa dan biaya pribadi.
Spesimen seirisan kulit bawang itu kemudian diekstraksi agar DNA-nya
keluar dari inti sel. DNA merupakan material genetik berupa basa protein
panjang yang membangun struktur kromosom. Pada inti sel manusia
terdapat 23 pasang kromosom.
Masing-masing bisa dipenggal-penggal menjadi banyak lokus, satu unit
yang membangun sifat bawaan tertentu. Djaja memeriksa DNA Jenglot
pada lokus nomor D1S80 dari kromosom 1 dan HLA-DQA1 dari kromosom
5, serta lima lokus khusus lain dengan teknik PCR (polymerase chain
reaction).
Pemeriksaan HLA-DLA-DQA1 memberikan hasil positif. Artinya, spesimen
Jenglot itu berasal dari keluarga primata -bisa monyet, bisa pula manusia.
Namun dari penyelidikan atas lokus D1S80, Djaja mendapat kepastian
bahwa sampel DNA itu berkarakteristik sama dengan manusia. Temuan
mengejutkan itu diperkuat dengan kajian mesin PCR. "Hasilnya begitu,
saya harus bilang apa," kata satu-satunya ahli DNA forensik Indonesia
berusia 37 tahun itu. Hendra Hartanto gembira mendengar hasil penelitian
Djaja. "Ini menyangkut peninggalan sejarah yang berumur 3.112 tahun,"
katanya ketika ditemui Gatra di pameran Gelar Benda Pusaka Jenglot, di
Plaza Metro Sunter, Jakarta Utara waktu itu.
Dokter Budi Pramono, yang pernah merontgen Jenglot, terkejut mendengar
hasil penelitian Djaja Surya. "Mirip bagaimana? Harus jelas. Saya kok
kurang percaya. Nanti saya akan mengkonfirmasikan langsung ke Dokter
Djaja," katanya. Yang pasti, Budi tak percaya jika Jenglot dianggap hidup.
"Makhluk hidup itu perlu makan dan bernapas. Lalu strukturnya perlu
tulang, jantung, paru, dan lain-lain. Jenglot tak mempunyai itu semua,"
katanya.
Untuk menjelaskan sosok Jenglot secara
lengkap, kata Budi, perlu diteliti lebih jauh
struktur anatominya, aspek mikroskopis
jaringannya, bahkan enzim yang ada di
tubuhnya. Pimpinan RSCM sempat tertarik
untuk meneliti Jenglot. Namun setelah Budi
melaporkan bahwa Jenglot tak memiliki
kelengkapan organ sebagai makhluk, niat itu
surut. Jenglot dianggap seperti karya mistik
lainnya yang tak mengandung tantangan
ilmiah.
Sampai kemudian Djaja Surya menguji DNA dari kulit lengannya, yang
ternyata berkarakteristik manusia. Tapi Djaja pun tak memutlakkan
temuannya. Bisa saja penyelidikannya meleset karena sampelnya
terkontaminasi. "Misalnya, kulit Jenglot sebelumnya terkena olesan darah
manusia," katanya.
Waktu Jenglot dipamerkan, seorang bapak yang mengaku dari Salatiga
yang bertanya, "Bisakah jenglot berkembang biak?''
Pertanyaan itu semata-mata berpangkal dari kekhawatirannya jika
"makhluk ganas'' (karena makanannya darah) itu makin banyak. Tetapi
Hendra menepis kekawatiran itu. Menurut dia, jenglot hanya hidup secara
gaib (roh). Artinya, "kehidupan'' yang dimiliki bukan seperti kehidupan
makhluk hidup. Sebab, secara fisik jenglot sebenarnya sudah mati (mumi).
"Namun, dalam kematiannya itu dia masih memiliki kekuatan,'' ujarnya.
Karena itu, dia mempersilakan orang yang memiliki tenaga dalam untuk
membuktikan keberadaan "energi'' itu.
''Energi yang terkandung di dalam jenglot betul-betul besar, sampai saya
terpental beberapa meter.
Padahal, saya sudah mengerahkan kemampuan tenaga dalam untuk
meremukkannya, namun ternyata tak mampu. Wah, betul-betul luar biasa,''
tutur salah seorang pengunjung yang tak mau disebut namanya, setelah
menjajal energi yang tersimpan di jenglot yang dipamerkan di Ruang
Pamer Pasarraya Sri Ratu Jalan Pemuda Semarang.
Memang, banyak pengunjung yang kurang percaya jenglot itu mempunyai
energi supranatural. Namun, bagi pengunjung yang mempunyai ilmu
tenaga dalam atau tenaga supranatural, baru akan mempercayainya mumi
mini tersebut mempunyai energi yang besar.
Sampai-sampai mampu melemparkan pengunjung yang menjajal-nya.
Beberapa pengunjung yang lain yang memiliki ilmu tenaga dalam ketika
menguji juga mengalami nasib serupa, terpental. Namun ada juga
pengunjung yang memang tak dibekali dasar-dasar ilmu tenaga dalam,
ketika mau membuktikan energi jenglot oleh panitia dengan terpaksa tidak
diperkenankan. ''Jangankan diremas oleh orang tua, oleh anak kecil pun
jenglot pasti remuk,'' tutur Yehana SR, salah seorang panitia pameran.
Tidak hanya itu, kabar jenglot yang diduga mempunyai unsur DNA
manusia dan energi supranatural juga telah mendunia. Buktinya, salah
seorang pakar foto aura dari Belanda, yakni Ny Adri Bojoh Knijn, secara
khusus datang ke Ruang Pamer Jenglot untuk mendeteksi keberadaan
energi jenglot tersebut dengan alat foto aura.
Hendra Hartanto pemilik benda tersebut menjelaskan, soal asal-usul
jenglot tersebut manusia atau bukan, tergantung pada kepercayaan.
Karenanya, jika ada pihak lain yang mempercayai benda tersebut bukan
merupakan jasad manusia sah-sah saja. Sedangkan soal penelitian DNA,
pihaknya berencana akan melakukan pengujian ke Singapura dan Jepang.
Banyak pula pengunjung yang meragukan jenglot sebagai makhluk mati
yang mempunyai energi. Misalnya, kapan jenglot memindahkan tangan
atau kakinya. Mulai hari pertama hingga kelima dipamerkan, empat
''pertapa sakti'' tersebut tetap dalam posisi semula: tangan tertekuk di
depan dada, kedua kaki lurus-sejajar, dengan kedua mata terbuka.
''Katanya hidup, kok nggak bisa berkedip-kedip?'' tanya seorang
pengunjung.
Terhadap pertanyaan itu, Hendra menjelaskan, jenglot memang tak bisa
berkedip. Namun, meskipun belum pernah memergoki, dia sering
mendapati posisi kelopak mata yang berubah. ''Suatu saat, posisi kelopak
mata terbuka lebar, tapi saat yang lain akan menurun. Saya memang
belum pernah memergoki, tapi pernah mendapati kelopak mata dalam
kedua posisi seperti itu,'' ucapnya mencoba meyakinkan para pengunjung.
Dia menambahkan, yang dimaksud hidup dari jenglot bukan hidup seperti
halnya manusia. ''Jenglot itu mumi, dan 'kehidupannya' ada dalam
kematiannya itu. Jenglot hanya hidup secara gaib (roh).''
Dari Petir
Sri Ningsih, paranormal di Jl Petek, Darat Nipah Selatan No 177A
Semarang, mengatakan, jenglot memang memiliki kekuatan atau energi.
Jadi nggak ada unsur rekayasa. ''Namun saya berbeda pendapat dari
Hendra mengenai asalnya. Menurut saya, jenglot itu berasal dari petir yang
dipegang dan di-sabdo oleh tiga wali, yakni Syekh Maulana Malik Ibrahim,
Sunan Ampel, dan Sunan Giri,'' tuturnya.
Mereka menganggap petir kurang ajar karena menyambar-nyambar saat
ketiga wali berjalan-jalan. Karena itu petir ditangkap, kemudian di-sabdo.
Karena berasal dari petir, maka jenglot memilki aliran listrik besar. ''Secara
fisik, jenglot berbentuk manusia, tapi sebenarnya dia itu jin. Setelah saya
negosiasi, makanan jenglot bisa tanpa darah manusia, tapi cukup dengan
minyak japaron,'' tuturnya.
Sedangkan Harwanto, pengunjung asal Pedurungan, mengaku tertarik
melihat jenglot, karena katanya termasuk manusia dan hidup. ''Tapi ketika
saya datang, berkedip pun dia tak bisa. Kalau demikian, jenglot tak
ubahnya seperti benda pusaka lain, yaitu keris batu akik. Apalagi
sesajiannya darah dan minyak wangi,'' paparnya
Sumber dari http://www.suryapromo.com/mcyber
sebagai "Jenglot", yang konon berjenis kelamin lelaki dan konon pula bisa
membantu mengamankan pemiliknya dari segala macam bahaya. Yang
lain lagi adalah Bethoro Karang, pria juga, konon bisa membantu
kelancaran usaha, menjaga keselamatan, dan lain-lain. Lalu Bethoro
Katon, konon berjenis kelamin wanita, di mana selain membantu
melancarkan usaha juga bisa dipakai sebagai "pengasih". Yang terakhir,
Begawan Kapiworo, katanya penjelmaan kera putih, ada hubungan dengan
Anoman, mempunyai padepokan Kendali Sodo. "Jenglot" sendiri menurut
Abas adalah benda mati, bukan mahluk hidup. Meski "jenglot" bukan
mahluk hidup, tetapi daya spiritual "jenglot" tetap hidup. Karena itu "jenglot
harus diberi makan". Makanan "jenglot" adalah darah berjenis O dan
minyak wangi. Abas menyebut merk minyak wangi yang katanya mudah
didapat di pasar.
Ahli Forensik FKUI-RSCM: Jenglot Bukan Manusia
Jenglot pernah diperiksa dr Budi Sampurna DSF di Bagian Forensik
RSCM. Benda sepanjang 10,65 cm, menyerupai boneka menyeramkan itu
memiliki bagian serupa kepala, badan, tangan dan kaki serta rambut terurai
sepanjang 30 cm. Ukuran masing-masing tampak proporsional. Hanya
saja, ukuran kuku-kuku jarinya serta taring sangat panjang. Taring mencuat
hampir sepanjang ukuran kepala, kuku juga panjang dan meruncing hingga
bukan tidak mungkin membuat bulu kuduk penonton berdiri.
"Setiap 35 hari pada Jumat Legi, kita kasih
satu tetes darah dicampur minyak javaron
seperti kalau banyak orang memberikan
sesaji berupa kembang atau kemenyan,"
kata Hendra. Tak ada yang tahu apakah
darah tersebut benar-benar diminum atau
tidak oleh mahkluk seberat 37,2 gram itu.
Menurut Hendra, dalam tubuh Jenglot masih
terdapat kehidupan.
Tanda kehidupan itu, menurutnya, dapat dilihat dari bola matanya yang
bisa berpindah setiap saat serta rambut dan kukunya yang memanjang.
Benarkah Jenglot dan kawan-kawannya itu masih hidup atau setidaknya
pernah hidup? Hendra dengan berani mengajukan "tantangan" agar para
ahli kedokteran menelitinya secara objektif.
Tampaknya gayung bersambut. Pihak forensik RSCM tertarik untuk
meneliti "kemanusiaan" Jenglot. Tentu saja bukan berdasarkan ilmu klenik,
tapi secara medis berdasarkan ilmu pengetahuan. Maka pada hari Kamis,
25 September 1997 siang, makhluk Jenglot dibawa ke RSCM untuk
diperiksa secara medis. Ruang Forensik dan ruang Rontgent RSCM
mendadak penuh sesak pengunjung.
Mereka terdiri dari paramedis, mahasiswa kedokteran, wartawan dan
sejumlah pengunjung RS yang tertarik melihat kedatangan jenglot yang
ditaruh dalam kotak kayu berukir itu.
Ahli Forensik FKUI-RSCM, Budi Sampurna DSF mengatakan, pemeriksaan
Jenglot dengan latar belakang seperti yang telah diketahui masyarakat luas
merupakan tantangan menarik bagi dunia kedokteran untuk
membuktikannya dari segi keilmuan. Menurut dr Budi, guna membuktikan
kemanusiaan jenglot, maka akan dilakukan deteksi dengan alat rontgent
untuk mengetahui struktur tulangnya serta pemeriksaan bahan dasar
kehidupan seperti C,H,O atau proteinnya.
Untuk keperluan tersebut, ahli forensik mengambil sampel dari bahan yang
diduga sebagai kulit atau daging Jenglot serta sehelai rambutnya.
Pengambilan sampel dilakuan sendiri oleh Hendra yang saat datang ke
RSCM membawa serta tiga batang hio. "Untuk jaga-jaga, jangan-jangan
ada yang kena sawab-nya (pengaruh)," katanya perihal hio.
Dokter Djaya Surya Atmaja kemudian memotret dan mengukur berbagai
bagian "tubuh" Jenglot. Setelah itu dokter spesialis Radiologi, dr Muh Ilyas
memeriksa jenglot menggunakan sinar X. Dalam pemerikasaan lebih lanjut
Hendra menolak barang koleksinya dibedah. Alasannya, jasad Jenglot
akan rusak. "Akibat tidak baik bagi kita semua," katanya.
Usai pemeriksaan ternyata hasilnya menyatakan jenglot tak memiliki
struktur tulang. Hasil rontgent yang disaksikan puluhan wartawan,
paramedis, mahasiswa praktek, ternyata hanya menampilkan bentuk
struktur menyerupai penyangga dari kepala hingga badan. Selain itu
terlihat juga jaringan kuku dan empat gigi selebihnya tak ada. "Ada bagian
jaringan serupa daging, namun kita belum bisa memastikan apakah itu
daging atau bahan lainnya," kata dr Muh Ilyas.
Guna mendapat hasil lebih mendetail, maka Jenglot diteliti dengan CT
Scan. Ternyata Jenglot tidak memiliki struktur seperti manusia kendati
kenampakan luar menyerupai manusia. Kini pihak Forensik FKUI-RSCM
masih meneliti sampel kulit/daging serta rambut Jenglot untuk mengetahui
golongan darah, DNA-nya. "Memakan waktu sekitar tiga minggu," katanya.
Menanggapi hasil tersebut, Hendra mengatakan, "Apa pun hasilnya kita
harus terima dong," katanya.
Majalah Gatra, Nomor 52/III, 15 November 1997 memberikan laporannya
mengenai Jenglot. Penelitian yang dilakukan Dokter Djaja Surya Atmaja,
PhD, dari Universitas Indonesia menunjukkan bahwa contoh kulit Jenglot
yang diperiksa memiliki karakteristik sebagai DNA (deoxyribosenucleic
acid) manusia. "Saya kaget menemui kenyataan ini," kata Djaja, doktor di
bidang DNA forensik lulusan Kobe University, Jepang, 1995. Namun Djaja
menolak anggapan seolah ia mengakui Jenglot sebagai manusia. "Tapi
sampel yang saya ambil dari Jenglot menunjukkan karakteristik manusia,"
katanya.
Adapun sampelnya berupa sayatan kulit Jenglot berukuran setengah luas
kuku, yang mengelupas dari lengannya. Contoh kulit itulah yang kemudian
ditelitinya di Laboratorium RSCM atas prakarsa dan biaya pribadi.
Spesimen seirisan kulit bawang itu kemudian diekstraksi agar DNA-nya
keluar dari inti sel. DNA merupakan material genetik berupa basa protein
panjang yang membangun struktur kromosom. Pada inti sel manusia
terdapat 23 pasang kromosom.
Masing-masing bisa dipenggal-penggal menjadi banyak lokus, satu unit
yang membangun sifat bawaan tertentu. Djaja memeriksa DNA Jenglot
pada lokus nomor D1S80 dari kromosom 1 dan HLA-DQA1 dari kromosom
5, serta lima lokus khusus lain dengan teknik PCR (polymerase chain
reaction).
Pemeriksaan HLA-DLA-DQA1 memberikan hasil positif. Artinya, spesimen
Jenglot itu berasal dari keluarga primata -bisa monyet, bisa pula manusia.
Namun dari penyelidikan atas lokus D1S80, Djaja mendapat kepastian
bahwa sampel DNA itu berkarakteristik sama dengan manusia. Temuan
mengejutkan itu diperkuat dengan kajian mesin PCR. "Hasilnya begitu,
saya harus bilang apa," kata satu-satunya ahli DNA forensik Indonesia
berusia 37 tahun itu. Hendra Hartanto gembira mendengar hasil penelitian
Djaja. "Ini menyangkut peninggalan sejarah yang berumur 3.112 tahun,"
katanya ketika ditemui Gatra di pameran Gelar Benda Pusaka Jenglot, di
Plaza Metro Sunter, Jakarta Utara waktu itu.
Dokter Budi Pramono, yang pernah merontgen Jenglot, terkejut mendengar
hasil penelitian Djaja Surya. "Mirip bagaimana? Harus jelas. Saya kok
kurang percaya. Nanti saya akan mengkonfirmasikan langsung ke Dokter
Djaja," katanya. Yang pasti, Budi tak percaya jika Jenglot dianggap hidup.
"Makhluk hidup itu perlu makan dan bernapas. Lalu strukturnya perlu
tulang, jantung, paru, dan lain-lain. Jenglot tak mempunyai itu semua,"
katanya.
Untuk menjelaskan sosok Jenglot secara
lengkap, kata Budi, perlu diteliti lebih jauh
struktur anatominya, aspek mikroskopis
jaringannya, bahkan enzim yang ada di
tubuhnya. Pimpinan RSCM sempat tertarik
untuk meneliti Jenglot. Namun setelah Budi
melaporkan bahwa Jenglot tak memiliki
kelengkapan organ sebagai makhluk, niat itu
surut. Jenglot dianggap seperti karya mistik
lainnya yang tak mengandung tantangan
ilmiah.
Sampai kemudian Djaja Surya menguji DNA dari kulit lengannya, yang
ternyata berkarakteristik manusia. Tapi Djaja pun tak memutlakkan
temuannya. Bisa saja penyelidikannya meleset karena sampelnya
terkontaminasi. "Misalnya, kulit Jenglot sebelumnya terkena olesan darah
manusia," katanya.
Waktu Jenglot dipamerkan, seorang bapak yang mengaku dari Salatiga
yang bertanya, "Bisakah jenglot berkembang biak?''
Pertanyaan itu semata-mata berpangkal dari kekhawatirannya jika
"makhluk ganas'' (karena makanannya darah) itu makin banyak. Tetapi
Hendra menepis kekawatiran itu. Menurut dia, jenglot hanya hidup secara
gaib (roh). Artinya, "kehidupan'' yang dimiliki bukan seperti kehidupan
makhluk hidup. Sebab, secara fisik jenglot sebenarnya sudah mati (mumi).
"Namun, dalam kematiannya itu dia masih memiliki kekuatan,'' ujarnya.
Karena itu, dia mempersilakan orang yang memiliki tenaga dalam untuk
membuktikan keberadaan "energi'' itu.
''Energi yang terkandung di dalam jenglot betul-betul besar, sampai saya
terpental beberapa meter.
Padahal, saya sudah mengerahkan kemampuan tenaga dalam untuk
meremukkannya, namun ternyata tak mampu. Wah, betul-betul luar biasa,''
tutur salah seorang pengunjung yang tak mau disebut namanya, setelah
menjajal energi yang tersimpan di jenglot yang dipamerkan di Ruang
Pamer Pasarraya Sri Ratu Jalan Pemuda Semarang.
Memang, banyak pengunjung yang kurang percaya jenglot itu mempunyai
energi supranatural. Namun, bagi pengunjung yang mempunyai ilmu
tenaga dalam atau tenaga supranatural, baru akan mempercayainya mumi
mini tersebut mempunyai energi yang besar.
Sampai-sampai mampu melemparkan pengunjung yang menjajal-nya.
Beberapa pengunjung yang lain yang memiliki ilmu tenaga dalam ketika
menguji juga mengalami nasib serupa, terpental. Namun ada juga
pengunjung yang memang tak dibekali dasar-dasar ilmu tenaga dalam,
ketika mau membuktikan energi jenglot oleh panitia dengan terpaksa tidak
diperkenankan. ''Jangankan diremas oleh orang tua, oleh anak kecil pun
jenglot pasti remuk,'' tutur Yehana SR, salah seorang panitia pameran.
Tidak hanya itu, kabar jenglot yang diduga mempunyai unsur DNA
manusia dan energi supranatural juga telah mendunia. Buktinya, salah
seorang pakar foto aura dari Belanda, yakni Ny Adri Bojoh Knijn, secara
khusus datang ke Ruang Pamer Jenglot untuk mendeteksi keberadaan
energi jenglot tersebut dengan alat foto aura.
Hendra Hartanto pemilik benda tersebut menjelaskan, soal asal-usul
jenglot tersebut manusia atau bukan, tergantung pada kepercayaan.
Karenanya, jika ada pihak lain yang mempercayai benda tersebut bukan
merupakan jasad manusia sah-sah saja. Sedangkan soal penelitian DNA,
pihaknya berencana akan melakukan pengujian ke Singapura dan Jepang.
Banyak pula pengunjung yang meragukan jenglot sebagai makhluk mati
yang mempunyai energi. Misalnya, kapan jenglot memindahkan tangan
atau kakinya. Mulai hari pertama hingga kelima dipamerkan, empat
''pertapa sakti'' tersebut tetap dalam posisi semula: tangan tertekuk di
depan dada, kedua kaki lurus-sejajar, dengan kedua mata terbuka.
''Katanya hidup, kok nggak bisa berkedip-kedip?'' tanya seorang
pengunjung.
Terhadap pertanyaan itu, Hendra menjelaskan, jenglot memang tak bisa
berkedip. Namun, meskipun belum pernah memergoki, dia sering
mendapati posisi kelopak mata yang berubah. ''Suatu saat, posisi kelopak
mata terbuka lebar, tapi saat yang lain akan menurun. Saya memang
belum pernah memergoki, tapi pernah mendapati kelopak mata dalam
kedua posisi seperti itu,'' ucapnya mencoba meyakinkan para pengunjung.
Dia menambahkan, yang dimaksud hidup dari jenglot bukan hidup seperti
halnya manusia. ''Jenglot itu mumi, dan 'kehidupannya' ada dalam
kematiannya itu. Jenglot hanya hidup secara gaib (roh).''
Dari Petir
Sri Ningsih, paranormal di Jl Petek, Darat Nipah Selatan No 177A
Semarang, mengatakan, jenglot memang memiliki kekuatan atau energi.
Jadi nggak ada unsur rekayasa. ''Namun saya berbeda pendapat dari
Hendra mengenai asalnya. Menurut saya, jenglot itu berasal dari petir yang
dipegang dan di-sabdo oleh tiga wali, yakni Syekh Maulana Malik Ibrahim,
Sunan Ampel, dan Sunan Giri,'' tuturnya.
Mereka menganggap petir kurang ajar karena menyambar-nyambar saat
ketiga wali berjalan-jalan. Karena itu petir ditangkap, kemudian di-sabdo.
Karena berasal dari petir, maka jenglot memilki aliran listrik besar. ''Secara
fisik, jenglot berbentuk manusia, tapi sebenarnya dia itu jin. Setelah saya
negosiasi, makanan jenglot bisa tanpa darah manusia, tapi cukup dengan
minyak japaron,'' tuturnya.
Sedangkan Harwanto, pengunjung asal Pedurungan, mengaku tertarik
melihat jenglot, karena katanya termasuk manusia dan hidup. ''Tapi ketika
saya datang, berkedip pun dia tak bisa. Kalau demikian, jenglot tak
ubahnya seperti benda pusaka lain, yaitu keris batu akik. Apalagi
sesajiannya darah dan minyak wangi,'' paparnya
Sumber dari http://www.suryapromo.com/mcyber




0 comments:
Post a Comment